Dewasa

16 Jan

DewasaMenjadi tua adalah kepastian,
Menjadi dewasa adalah pilihan

Dalam hidup ini, entah disadari atau tidak sesungguhnya kita mengalami sebuah proses belajar yang panjang, sejak kita dilahirkan proses itu dimulai, kita menjadi murid, sedang proses itu sendiri menjadi guru.  Melewati masalah demi masalah, dilewati atau kadang terlewati. Dari sekian banyak masalah itu timbul sebuah pengalaman berharga, setidaknya ada yang bisa dipetik sebagai pelajaran, baik itu pelajaran baik maupun pahit.

Ketika mengalami sebuah kegagalan pun sesungguhnya kita sedang ditempa untuk lebih berani dan berhati-hati menghadapi tantangan dan peluang. Keberanian dan kehati-hatian seperti gas dan rem pada sebuah mobil, jika tidak berimbang menggunakannya pasti terjadi ketidak harmonian.Dalam pelajaran Emotional Quetion (EQ) sering kali digambarkan bahwa sikap emosional yang benar indikasinya adalah seseorang dapat bersikap dewasa.. sebenarnya seperti apakah bentuk sikap dewasa itu, beberapa ahli mendefinisikan sikap dewasa sebagai berikut :
a.  pandai beradaptasi
b.  tepat dalam berkata
c.  berfikir sistematis/rasional
d.  pandai mengendalikan emosi (marah, malu, takut, dst)
e.  memiliki simpati dan empati

Digambarkan dalam sebuah kisah, seorang olahragawan sedang ditepi jalan, ia melakukan sedikit peregangan dgn meluruskan tubuh dan tangannya bertumpu pada sebuah mobil, mobil itu berada pada tepian jurang. Gerakannya seperti hendak mendorong mobil, padahal sesungguhnya ia hanya sedang melakukan gerak peregangan tubuh.
Disisi lain, seorang pengendara melihat olahragawan tadi, ia berhenti dan turun dari mobil, lalu berdiri disisi olahragawan, kemudian mendorong mobil itu kuat-kuat… mobil pun meluncur ketepi jurang.

Dari sisi sang supir, menurut pengamatan singkatnya dan pengalamannya, gerakan olahragawan itu adalah gerakan orang yg ingin mendorong mobil. Dengan rasa empati yg dia punya, ia berusaha membantunya dgn ikut mendorong.

Tidak ada yang salah dari 2 hal ini, tapi jika saja, supir ini berusaha lebih memahami apa yg tengah dikerjakan oleh olahragawan tadi, tentu kejadian itu tidak terjadi.

Kitapun seringkali terlibat masalah dgn orang lain, cekcok, bermusuhan  karena kita melihat masalah dari satu sisi saja, tidak berusaha melihat dari sisi lawan kita… (bahkan kadang tidak mau tau dgn kondisinya).

Justru kita semakin dewasa manakala kita berusaha memahami, mempelajari, dan mengerti apa yg menjadi persoalan orang lain, memandang persoalan dari sisinya, bukan dari sisi kita, yang sering kali menyebabkan penilaian yang subjektif.

Pada akhirnya, jika kita mampu menyelami perasaan orang lain, memahami nya, .. hampir dipastikan masalah dapat di eliminir, dapat di minimalisir dan hidup pun menjadi lebih indah.

Satu Tanggapan to “Dewasa”

  1. rera April 10, 2010 pada 6:39 pm #

    Menjadi tua adalah kepastian,
    Menjadi dewasa adalah pilihan

    hmm.. saya suka dengan kalimat itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: